Minggu, 05 Februari 2012

Gerakan Mahasiswa = HARAPAN


Mahasiswa adalah generasi muda yang cerdas yang telah terpilih melalui suatu proses penyaringan yang ketat. Mereka adalah iron stock bangsa dan negara dimasa depan sebagaimana jargon mereka yang terkenal: Student now leader tomorrow. Mendengar kata “mahasiswa”, sebagian dari kita mungkin bertanya, mengapa ada kata “maha” di depan kata “siswa”. Mengapa bahasa Indonesia menempatkan kata mahasiswa sebagai padanan kata pengganti kata pelajar perguruan tinggi. Padahal dalam bahasa Inggris, tidak ada kata mahasiswa. Pelajar perguruan tinggi tetap dipanggil sebagai “student” yang disamakan dengan pelajar sekolah dasar dan menengah. Dalam bahasa Sansekerta, “maha” diartikan sebagai “tak terbatas/hebat”. Menjadi satu kontemplasi tersendiri untuk para mahasiswa agar memahami makna mendalam dari kata “mahasiswa”. Kata “maha” disini bisa dipahami sebagai suatu harapan bagi mahasiswa agar senantiasa menjadi seorang pembelajar dimana pun ia berada, tidak ada rasa puas akan ilmu yang membuat diri mahasiswa terus mencari dan belajar hingga akhir hayatnya.

Menyadari peran, posisi dan fungsi mahasiswa menjadi sebuah tuntutan mendasar, karena bagaimana mungkin mahasiswa menjalankan perannya dengan baik jika ia tidak pernah mengetahui potensi apa yang dimiliki serta tanggung jawab besar apa yang harus dipikul olehnya di masa kini dan masa mendatang. Pembelajaran yang terus menerus, meningkatkan kapasitas diri serta membangun integritas akademik dan religius merupakan langkah-langkah yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mewujudkan perannya sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. Meski mungkin perlu disayangkan, hanya sedikit mahasiswa yang memahami tanggung jawab besar dibalik potensi besar yang dimilikinya. Sehingga dampak dari keberadaan 4,8 juta mahasiswa di Indonesia bisa dikatakan belum terlalu terasa (Kompas.com). Idealisme mahasiswa yang dibangun dengan dasar intelektualitas, religius, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat menuntut mahasiswa untuk bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Sebagai seorang first class citizen , permasalahan moral dan politik seharusnya sudah menjadi santapan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.

Potensi Indonesia
Sebelum membicarakan bagaimana peran mahasiswa dalam membangun kemandirian bangsa, ada baiknya jika kita mencoba menilik kembali, potensi apa yang dimiliki oleh negara kepulauan yang besar ini. Sehingga akan lebih mudah memahami bagaimana peran mahasiswa dalam turut serta berpartisipasi aktif dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Indonesia merupakan bangsa yang besar. Kebesaran bangsa Indonesia tidak hanya dilihat dari jumlah penduduknya yang mencapai 237 juta jiwa - yang membuat Indonesia menempati peringkat jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia - tetapi juga kemajemukan budayanya. Kemajemukan budaya tersebut diperlihatkan antara lain dengan terdapatnya 495 suku / etnis dan  567 bahasa lokal / dialek yang tersebar di Indonesia (bps.go.id).
Sejarah telah menuliskan bagaimana bangsa yang heterogen ini pada akhirnya muwujudkan persatuan untuk berjuang dalam menghadapi musuh bersama (penjajah) dan mencapai cita-cita bersama (kemerdekaan). Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan buah perjuangan yang diperoleh dengan persatuan. Dengan demikian momen tersebut telah menutup fase liberation serta membuka fase berikutnya, yaitu fase nation and character building. Namun, tantangan yang dihadapi pada fase kedua jauh lebih sulit daripada fase pertama. Untuk menghadapi tantangan tersebut bangsa Indonesia dituntut untuk tetap membangun dan menjaga kohesivitas (persatuan) serta tanggap terhadap perubahan yang terjadi di dunia.
Selain itu, Indonesia juga memiliki keunggulan posisi geografis. Posisi Indonesia terletak di jantung kawasan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yang mencakup Asia Timur, Asia Selatan, dan Australia-Selandia Baru. Indonesia kini memiliki potensi untuk menjadi negara yang maju, khususnya pada potensi alam yang sejatinya tidak dimiliki oleh negara lain. Sehingga strategi pembangunan pun harus berbasis potensi atau keunggulan sumber daya alam ini. Terutama sumber daya berupa tropical terrestrial dan marine resources yang merupakan wujud khas Indonesia sebagai negara kepulauan di khatulistiwa (www.ristek.go.id).

Perguruan Tinggi sebagai Pusat Peradaban
Sudah saatnya perguruan tinggi berpikir bagaimana dapat menjadi satu pusat peradaban di Indonesia. Dari perguruan tinggilah ilmu dan teknologi itu dikembangkan, dari perguruan tinggi para sarjana hebat diwisuda, di perguruan tinggi para pemilik industri juga mengembangkan diri dan mencari bibit unggul yang bisa memajukan perindustrian  nasional, dari perguruan tinggi akan dilahirkan para entrepreneur muda yang mengembangkan usahanya dengan berbasis kompetensi yang didapatnya di bangku kuliah, dan dari perguruan tinggi pula dilahirkan negarawan yang memiliki intelektual yang nantinya akan memimpin bangsa dengan kecapakannya. Perguruan tinggi harus bisa menyadari bahwa ada peran besar yang dimiliki olehnya dalam suatu negara. Perguruan tinggi berada di pusat dari berbagai komunitas yang ada di suatu negara, baik itu pemerintahan, swasta maupun masyarakat itu sendiri.
Dunia akademik yang dimana perguruan tinggi berada di dalamnya dikenal luas sebagai penyedia dan pemakai knowledge serta tempat terjadinya proses difusi dan inovasi. Sebuah negara yang maju selalu memiliki sebuah perguruan tinggi ternama yang menjadi centre of knowledge atau centre of civilization. Sebut saja Amerika Serikat dengan  Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Jepang dengan Tokyo University, dua negara ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memainkan peranan yang besar dalam perkembangan sebuah negara (webometrics.info). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah melalui perguruan tinggi tempat kita bernaung dapat memberikan peranan yang besar dalam perkembangan Indonesia. Apa yang dilakukan oleh negara adalah sebuah proses perubahan atau perbaikan, sebuah continues improvement yang membuat negara selalu berusaha menjadi terdepan.
Dengan posisi yang sangat strategis ini tentunya perguruan tinggi mempunyai peran dalam menghubungkan antar komunitas. Sebagai pusat ilmu pengetahuan perguruan tinggi dapat berperan sebagai rujukan publik atas segala permasalahan dan tantangan yang terjadi. Karena bagaimana pun semua masalah dapat diselesaikan jika merujuk kembali ke ilmu. Selain sebagai rujukan atas permasalahan, peran sentral perguruan tinggi adalah mensuplai alumni yang berkompeten serta memiliki karakter yang baik untuk mengisi pos-pos yang ada di masyarakat. Peran sentral ini sebisa mungkin bisa dijalankan dengan baik oleh perguruan tinggi dengan meningkatkan kapasitasnya (world class university). Harapan besar tentunya kepada perguruan tinggi untuk bisa menjadi solusi atas permasalahan yang ada dan dapat menjadikan dirinya sebagai pusat peradaban di suatu negara.

Kesimpulan
Posisi mahasiswa sebagai middle class menyatakan peran mahasiswa untuk menjembatani antara pemerintah dengan rakyat. Mahasiswa merupakan komunitas terpelajar yang atas segala kelebihan kapasitas intelektualnya membuatnya memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Peranan mahasiswa dalam mendukung terwujdnya Indonesia yang mandiri sangatlah besar, walau secara jumlah, mahasiswa hanya sekitar 2 % dari total seluruh penduduk Indonesia.. Dengan segala kemampuan berpikir kritisnya mahasiswa seharusnya dapat menjawab kebutuhan praktis masyarakat berdasarkan realita yang ada. Penyadaran peran mahasiswa sebagai iron stock, guardian of value dan agent of change adalah sebuah usaha untuk mahasiswa agar selalu menyadari posisinya untuk terus dekat dan menjadi solusi untuk masyarakat.
Dengan konsep itulah mahasiswa semestinya bergerak dan menyadari dirinya, belajar tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi (IP) yang tinggi dan mendapat penghargaan cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa. Oleh karena itu, dengan semangat kemerdekaan mari bersama memaknai event ini dengan senatiasa menginsyafi dan selalu berintrospeksi diri sebagai seorang ”mahasiswa”, juga kita jadikan sebagai momentum untuk ”hijrah”, yaitu hijrah dari kemalasan menuju kerja keras, hijrah dari sikap pesimis menuju sikap optimis, berani keluar dari kenyamanan untuk mendaki dan menempuh kesulitan, respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa , sehingga akhirnya kita layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang ”mahasiswa”.


Referensi
·         Kadiman,  Kusmayanto., Membangun Daya Saing, Kemandirian Sains, dan Teknologi Bangsa, (www.ristek.go.id, 2008 )
·         Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010, (www.bps.go.id, 2011)
·         Top 1200 Universities, (webometrics.info, 2011)
·         Tri Harijono., Mahasiswa di Indonesia Cuma 4,8 Juta, (www.kompas.com, 2011)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls