Tampilkan postingan dengan label Seni Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Santri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Februari 2011

Rahmatul Asri

Oleh: M. ASWAR

Rahmatul Asri

Bagaimana kabarmu

Aku jadi rindu pada teriakanmu dabbir

Memecahkan keheningan fajar

Bertahta seperti komandan

Sekarang engkau lebih menyukai keheningan subuh

Pasti engkau tambah anggun

Kini

Di setiap perhelatan engkau bersolek

Dan saat menyambut santri baru

Seperti seorang wanita yang dipinang

Sudah berapa pialamu tahun ini

Mengisi lemari kaca di kantor

Ataukah kantor telah menjelma

tempat pajangan piala

Kemarin aku kerumah sakit

Namamu ku dengar

Ke masjid, ke kantor Bupati

Di mana saja

Namamu ku dengar

Sungguh kau amat pintar mengikat hati

Kau lebih maju kini

Setiap lomba tak pernah absen

Mulai dari MTQ, Pramuka, PMR sampai atletik

Hingga tak ada waktu

Belajar di kelas

Pasti prestasimu tambah selangkah kan

Aku jadi ingat kedua masjid kecilmu

Masih adakah santri yang mengaji

Sampai lonceng tak bunyi

Atau hanya sekedar shalat

Ku dengar sekarang ustadz-ustadz lebih santai

Tak ada pengajian ba’da magrib

Kadang ada, persiapan musabaqah

Kemana santri pahlawan sarungan

Dan santriwati yang takut lelaki

O, engkau mengikuti zaman

Yang itu santri jadul

Rahmatul Asri

Aku rindu pondokku

Jangan kau ambil ia

DO'A

oleh : Ahmad Yasin Syafi'i

Tuhanku,

Dalam tertumpu, aku masih menyebut namaMu

Meski kaku, ku  coba tuk ingat Engkau selalu

Aku tertunduk dihadapMu, dalam sembah sujudku

Merasakan cahaya suciMu, menjalari hati gelapku

Tuhanku,

Aku  kian hancur, tak terurai menjadi unsur

Biar tak terlebur, aku kan terus bersyukur

Sampai ragaku gugur, sampai jiwaku meluncur

cintaMu masih bertabur, KasihMu tetap tak terukur

Tuhanku

Aku tersesat dalam fana, cerita tak bertema

Tak ada pelita, tak ada warna

Aku terluka, aku nelangsa

Aku meminta, dalam doa dan cinta

 

AKU NEGERI INDONESIA

oleh : April34

Dalam kucai masai aku berdiri

Berdiri tegak membekap seluruh harapan

Aku bercengkrama dengan nasib

Selalu menghujam lintang yang telah tergaris

Aku menatap angin dan hujan

Butir-butir hujan menggelinjang di tubuh ku

Denyar-denyar ombak mencabik-cabik kulit ku

Aku tidak beringsut dalam ketakutan ku

Aku melawan rajaman semu peperangan

Aku memecut halangan yang menghadang

Aku jengah dengan keadaan

Namun, aku tetap meraja pada kemenangan

Lebam ku menatap ke depan

Kerlingan mata ku memberi isyarat

Bahwa aku harus bangkit dari pekatnya kegelapan

Bahana cahaya menerangi di setiap sudutku

Aku adalah negeri Indonessia

Aku merengkuh seluruh bangsaku

Aku adalah negeri Indonesia

Aku menyanggah seluruh budayaku

Aku adalah negeri Indonesia

Aku menjulangkan harapanku

Aku adalah negeri Indonesia

Menyibak keterpurukan bangkitkan aku dan bangsaku

Bibit Cintamu

oleh : Aswar

Dahulu kau beri aku tanaman. Dan kau bilang rawatlah ia


seperti dirimu sendiri, siram dua kali sehari. Jangan sampai


ia kepanasan ataukah kekurangan air dan pupuk


 


Aku tanam bibit itu. Ku rawat ia sesuai kemauanmu. Sekarang


sudah tumbuh seperti pohon-pohon yang lain. Bahkan lebih


tangkainya sudah menjalar ke jendela rumahku. Menyapaku


setiap pagi dan petang, bahkan setiap detik


 


Takkah kau ingin mengecup pahit buahnya dan cekikan tangkainya?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls